Kamis, 27 Januari 2011

Seperti Petrus

Ada seorang pria yang sering gagal dalam Alkitab. Namanya Petrus. Padahal Petrus adalah rasul nomor satu. Dan dia sangat membanggakan dirinya yang pemberani.

Ketika rasul lain merasa ketakutan di dalam kapal yang terkena angin badai, dia justru berjalan di atas air. Ketika setiap orang tidak bisa menyebutkan identitas Yesus, dia dengan keras memproklamirkan, “Engkaulah Kristus, Anak Allah yang hidup!”

Tapi, pada saat genting… Petrus gagal. Ketika kesetiaannya dibutuhkan, Petrus berubah menjadi pengecut. Dia menyangkali Yesus tiga kali. Bayangkan perasaan Petrus setelah kejadian penyangkalan itu. Bayangkan rasa bersalah yang menghantui jiwanya.

Seperti Petrus, kita adalah pengritik diri sendiri yang paling kejam. Hubungan yang paling berbahaya adalah berhubungan dengan diri sendiri. Kita adalah musuh paling jahat untuk diri sendiri. Saat gagal, kita mulai menyalahkan diri sendiri, terus dan terus. Kita menjuluki diri sendiri sebagai “si tukang kalah”. Kita mengutuki diri sendiri sebagai selamanya tidak pernah berhasil.

Ketahuilah bahwa ada dua macam rasa bersalah…
- Rasa bersalah yang menghantui kita
- Rasa bersalah yang men-detoks kita

Rasa bersalah yang pertama akan terlihat seperti iblis. Ketika kita jatuh dalam dosa, rasa bersalah itu akan berkata, “Engkau jahat. Tidak ada yang baik dari dirimu.” Rasa bersalah yang pertama membuat depresi, dan mendorong kita semakin dalam terlibat dengan dosa. Inilah rasa bersalah dari orang yang ketagihan dosa.

Rasa bersalah yang kedua, akan “mengeluarkan racun” dari diri kita. Rasa ini memisahkan antara dosa dan si pendosa. Ketika kita jatuh dalam dosa, rasa bersalah yang kedua ini akan berkata, “Ini bukanlah dirimu, karena engkau lebih baik darinya. Bangkit. Teruslah maju!”

Rasa bersalah yang kedua akan mengangkat kita. Mendorong kita untuk menjadi diri kita yang sesungguhnya.

Rasa bersalah seperti apa yang kita miliki saat ini?

Banyak orang tidak punya pendapat baik terhadap diri mereka sendiri. Ini adalah akar dari masalah-masalah pribadi dan permasalahan dalam hubungan. Sekaligus akar dari mengapa hidup seseorang biasa-biasa saja.

Pendapat kita tentang diri sendiri adalah pendapat paling penting yang bisa kita miliki. Mengapa? Sebab orang lain akan melihat diri kita, persis seperti kita melihat diri sendiri.

Itu sebabnya, janganlah bersikap terlalu keras terhadap diri sendiri sehubungan dengan kelemahan yang kita miliki. Sebab kelemahan yang ada bukan berarti Tuhan menolak kita, melainkan karena Tuhan punya arah hidup yang lain untuk kita jalani. Sebuah kelemahan berarti kita seharusnya melayani di area lain.

Apa kelemahan, cacat fisik, atau keterbatasan kita? Jangan bersikap terlalu keras kepada diri sendiri. Kelemahan adalah kesempatan sangat baik bagi Tuhan untuk menunjukkan kuasaNYA. Alkitab berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Kor 12:9)

Ingat kisah Yesus yang menanyai Petrus sampai tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?”

Bahasa Inggris hanya memiliki satu kata untuk ‘kasih’. Tapi bahasa Yunani memiliki 4 kata untuk ‘kasih’. Dan 2 diantaranya digunakan dalam percakapan tersebut, yaitu: Agape dan Filia. Agape berarti kasih Tuhan, sempurna dan kekal. Filia berarti kasih manusia dengan kualitas terbaik.


Beginilah percakapan berlangsung…
Yesus bertanya kepada Petrus, “Apakah engkau Agape kepadaKu?”
Petrus menjawab, “Aku filia kepadaMu.”
Yesus bertanya lagi, “Apakah engkau Agape kepadaKu?”
Petrus menjawab lagi, “Aku filia kepadaMu.”

Petrus berkata jujur. Luka pengkhianatan yang telah ia lakukan kepada Yesus dengan menyangkaliNYA 3 kali masih sangat lekat dalam ingatan. Dia berkata kepada Yesus, “Aku kacau, Tuhan. Aku tidak dapat memberikan Agape kepadaMu. Tapi aku akan mencoba memberiMu Filia.”

Pada pertanyaan ketiga, Yesus berkata, “Petrus, apakah engkau Filia kepadaKu?”

Yesus menerima apa yang Petrus coba tawarkan saat itu. Dan hari ini, Tuhan Yesus menerima apa yang engkau tawarkan kepadaNYA, termasuk kelemahanmu. Serahkan hidupmu hari ini kepadaNYA…






Sumber: Bosanchez.ph
Diterjemahkan oleh : HMM Ministry

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Powered by Blogger